[Travel] Keliling Taiwan dengan TR Pass

TRPASS-B

Ingin tahu bagaimana caranya ber-backpacking keliling Taiwan dengan (cukup) nyaman dan murah meriah? Nah, salah satu caranya adalah dengan TR Pass. Apa itu TR Pass? TR (Taiwan Railway) Pass adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh Taiwan Railway Company untuk memberikan kesempatan kepada para (khususnya) mahasiswa lokal dan asing/ internasional untuk berkeliling Taiwan dengan menggunakan kereta api.

TR Pass ini sangat membantu bagi para low-cost backpacker/ traveler untuk menyambangi berbagai tempat di seantero Taiwan. Cukup dengan (sekitar) Rp 250.000 rupiah, kita bisa menaiki kereta sepuasnya selama 5 hari (*hanya kereta jenis tertentu tapinya).

Tapi, ada harga, ada barang. Maksudnya, karena harganya tergolong murah banget, fasilitas yang didapatkan tidak seleluasa penumpang reguler. Tidak semua jenis kereta bisa dinaiki (hanya terbatas kereta lokal, Fu Hsing Semi express dan Chu Kuang saja). Untuk kereta jenis yang cepat (Tze Chiang) dan super cepat (THSR – macam shinkansen), tidak termasuk dalam TR Pass.

Selain itu, kalau lagi peak season alias kereta penuh, ya mau gak mau harus siap dengan konsekuensi no-seat alias gak duduk. Kalau pas rejeki, Alhamdulillah bisa duduk nyaman. Tapi kalau nggak, ya terpaksa berdiri. hehehe…. Pas saya pergi dari Taipei ke Taitung, saya terpaksa ngelesot dan tidur over-night di lantai (Alhamdulillah pas sedia sajadah untuk duduk). But, overall, TR Pass ini sangat ngebantu banget untuk menekan budget.

Pas libur musim panas 2014 (bulan Agustus), saya menyempatkan diri untuk solo traveling ke beberapa kota di Taiwan. Saya belinya yang 5-day pass aja (kalo kelamaan, gempor juga ^^”). Berikut itinerary saya saat keliling Taiwan dengan TR Pass Student:

Sabtu, 16 Agustus 2014: Taipei – Taitung

  • Berangkat dari Taipei ke Taitung jam 23.30
  • Overnight sleep di kereta

Ahad, 17 Agustus 2014: Taitung – Kaohsiung

  • Sampai Taitung jam 05.30.
  • Lanjut kereta dari Taitung ke Kaohsiung jam 06.14 – 10.20
  • Istirahat di rumah kawan
  • Keliling Kota Kaohsiung (Lotus Pond)
  • Menginap di rumah kawan orang Taiwan
TWS010003_2
Ini Lotus Pond: Landmark kota Kaohsiung. Foto dari google

Senin, 18 Agustus 2014: Kaohsiung – Chiayi

  • Jalan-jalan bersama keluarga kawan ke Fo Guang Shan – Buddhist Monastery
  • Perjalanan kereta dari Kaohsiung ke Chiayi jam 17.16 – 19.34.
  • Menginap di Chiayi Assemble! Backpacker Hostel (Deket stasiun)
20150306055238_1552092510_10964_9
Ini Fo Guang Shan: Buddhist monastery terbesar di Taiwan. Berasa nonton film Shaolin Kungfu. Foto dari google 😀

Selasa, 19 Agustus 2014: Chiayi – Alishan – Taipei

  • Ke Alishan naik bus pagi dari stasiun jam 06.10 – 08.10
  • Keliling Alishan dan hiking di hutan sampai jam 13.30
  • Kembali ke Chiayi dengan bus jam 14.00
  • Kereta kembali ke Taipei jam 16.48 – 21.54
53131_og_1
Ini hiking track di Alishan. Mantep deh, naik turunnya ^^”. Foto dari google
alishan-railroad-alishan-taiwan
Ini Alishan Forest Railway yang terkenal itu. Klasik en kereeen, bisa merasakan suasana rel di tengah hutan yang berkabut. Foto dari google

Untuk memudahkan penyusunan itinerary, berikut link untuk tahu jadwal kereta di Taiwan dan juga jenis keretanya: Taiwan Railway – Train Schedule

En berikut di bawah ini saya copaskan informasi tentang TR PASS dari: TR Pass Information

The validity period of pass usage:

  1. Foreign student: every day.
  2. Domestic student (termasuk mahasiswa asing yang kuliah di Taiwan):
  • Winter period:15th January ~ 15th March.
  • Summer period:15th June ~ 15th September.

Type and price:

  • 5-day pass: $599 (sekitar Rp 250.000,-)
  • 7-day pass: $799 (sekitar Rp 330.000,-)
  • 10-day pass: $1,098 (Only foreign student permit – ISIC Card ato Student ID) (sekitar Rp 450.000,-)

Type/Group:

  • Domestic student: 5-day pass and 7-day pass only (permit to purchase on winter/ summer vacation)
  • Foreign student: 5, 7 and 10-day pass (permit to purchase every day)

Train accommodations:

During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains.

Points of Sale for the TR-Pass (Student):

Taitung、Yuli、Shoufeng、Zhixue、Ji’an、Hualien、Xincheng、Su’ao、Luodong、Yilan、Jiaoxi、Toucheng、Fulong、Ruifang、Keelung、Badu、Qidu、Xizhi、Nangang Songshan、Taipei、Wanhua、Banqiao、Shulin、Shanjia、Yingge、Taoyuan、Neili、Zhongli、Puxin、Yangmei、Hukou、Xinfeng、Zhubei、Hsinchu、Zhunan、Houlong、Tongxiao、Yuanli、Dajia、Shalu、Miaoli、Sanyi、Houli、Fengyuan、Tanzi、Taichung、Xinwuri、Changhua、Yuanlin、Tianzhong、Ershui、Douliu、Dounan、Dalin、Minxiong、Chiayi、Xinying、Longtian、Shanhua、Xinshi、Yongkang、Tainan、Bao’an、Zhongzhou、Dahu、Luzhu、Gangshan、Nanzi、Xinzuoying、Kaohsiung、Fengshan、Pingtung、Chaozhou、Fangliao.

Credentials:

1. Foreign student:

(1) Passport (Must)
(2) International Student Identity Card (ISIC) or The Youth Travel Card (international version, red version) published by YDA, Ministry of Education, Taiwan. (choose one)

Note:
The Youth Travel Card (National version) is forbidden.
Foreign student visiting Taiwan from abroad for sight-seeing.

2. Domestic student: (the same as Chinese version)

The period of sale:

  • Foreign student: 7 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 1st July to 7th July).
  • Domestic student: 3 days before a starting date. (Example: A starting date is 7th July, you can purchase the pass during 5th July to 7th July).

Note:

If the passage takes the train with forbid pass, it will be regarded as travelling without a valid ticket and pay the excess fare with penalty.

TRPASS
Tampilan Cover depan TR Pass Student
1
Tampilan dalam TR Pass (yang ini contoh yang TR Pass Group).

Remark:

The TR-PASS (student version) is not valid for any seats on Tze-Chiang Limited Express (Including “TAROKO” and “PUYUMA” Limited Express), if you must be take Tze-Chiang Limited Express, should purchase other ticket.

The conditions of use:

1. During its period of validity it can be used for an unlimited number of journeys on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express or local trains. It cannot be used to travel on tourist trains, group e trains, special trains, cruise type trains or other trains designated by TRA. (These train numbers are showed on TRA’s website.) If the pass holder takes any of these trains it will be regarded as travelling without a valid ticket.

2. Seats will not be allocated on Chu Kuang Express, Fu Hsing Semi-express trains.

3. It is void without the name on the cover. The name must be writing on the train pass cover and the same as that of person using it. Please carry your student ID during the journey for inspection by station staff or train masters.

4. The expiry date of the pass cannot be changed. If trains do not run because of force majeure, for example a typhoon, the pass can be choose one of methods as following after verification by station staff or train masters.

(1) The ticket can be extended for one day.
(2) The value of unused period can be refunded.

5. If the record on the train pass cover is altered the pass will be rendered invalid and the ticked taken back.

6. Because there is no restriction on the numbers of journeys or sections, this pass cannot be returned after it is purchased. It also does not qualify for the TRA train delay compensation scheme.

7. This pass will not be replace if it is lost or stolen, so please take good care of it.

8. Don’t lean against the door and stand or sit at entrance.

9. Other matters not mentioned will be dealt with according to TRA regulations. The integral regulations show on the website.(http://www.railway.gov.tw/en/)

10. The Traditional Chinese edition of these conditions shall have precedence over translations into other languages, which are made for convenience.

The forbidden list of trains with TR-PASS (student version):

  • Train type Train Number Note
    Tourist trains 1、2、51、52 All class is forbidden.
    Group trains 71、74、73、72 All class is forbidden.
    others 606、655、607、751 Business class is forbidden.
    All special trains, cruise type trains are forbidden.

 

Advertisements

[Story] Islam di Kota Judi, Macau

Prolog

Tulisan ini saya buat untuk Rubrik Ufuk Luar, Majalah Ummi tahun 2014 (*persisnya saya lupa edisi ke berapa ^^”). Sedikit latar belakang penulisan kisahnya, pada Maret 2014 saya berkunjung ke Hong Kong untuk mengikuti international conference yang diadakan di Hong Kong University.

Rasanya tanggung kalau sudah ke Hong Kong, tapi ndak mampir ke Macau. Akhirnya, saya bersama dua orang teman saya (Mb Dina dan Mb Meikha) melakukan short trip ke sana (less then 8 hours). Walaupun singkat, namun senang masih bisa berkunjung ke satu-satunya masjid yang ada di sana, dan bertemu dengan para pahlawan devisa dari negeri kita. Selamat membaca 🙂

***

Cahaya Islam dari Kota Judi, Macau

Oleh: Retno Widyastuti

Di negara yang terkenal dengan dunia hiburan dan perjudian resminya, cahaya Islam memancar, ditandai dengan adanya masjid dan kompleks pemakaman Muslim.

Macau merupakan wilayah khusus Republik Rakyat Cina yang lokasinya berada di sebelah barat daya Hongkong dan propinsi Guangzhou. Saat pertama menginjakkan kaki ke kota ini yang terbayang dalam benak saya adalah reruntuhan gereja kuno dan kasino yang penuh sesak dengan turis asing.

Sama sekali tidak terbersit di pikiran saya, bahwa daerah yang pernah menjadi koloni bangsa Portugis sejak pertengahan abad 16 sampai tahun 1999 ini, juga memiliki masjid dan komunitas Muslim. Saya baru tersadar saat melihat peta wisata Macau di dekat Ruins of Saint Paul. Di situ tertulis Mesquita e Cemeterio Islamico (Bahasa Portugis yang berarti masjid dan kompleks pemakaman Muslim).

Saya pun bergegas mencari taksi untuk pergi ke masjid tersebut. Namun, karena sebagian besar pengemudi hanya bisa berbahasa Kanton dan sedikit bahasa Mandarin Putonghua, akhirnya komunikasi pun dilakukan dengan terbata-bata. Selain karena masalah bahasa, memang, keberadaan masjid ini tak banyak diketahui masyarakat Macau secara umum.

Islam di Macau

Islam termasuk merupakan agama minoritas di wilayah Macau. Jumlah Muslim asli Macau diperkirakan hanya 400 orang saja. Menilik sejarahnya, Islam hadir di Macau melalui beberapa gelombang. Pertama, para pedagang asal Timur Tengah dan Persia yang hadir sejak masa Dinasti Yuan hingga Dinasti Qing di China daratan. Gelombang selanjutnya adalah kedatangan Muslim asal Asia Tenggara yang dibawa oleh tentara Portugis.

Pada masa itu, disediakanlah kompleks lahan untuk dibangun masjid dan pemakaman bagi para Muslim. Di kompleks tersebut terlihat berbagai macam nisan dengan nama-nama khas Muslim dari berbagai wilayah, lengkap dengan angka tahun dimakamkannya. Beberapa makam tersebut bahkan sudah berumur ratusan tahun.

Gejolak perang sipil yang terjadi di China daratan pada tahun 1949, menyebabkan banyak Muslim China Hui yang melarikan diri dari China menuju Taiwan dan Macau-Portugis. Jumlah Muslim di Macau juga bertambah signifikan semenjak datangnya pekerja asing ke Hong Kong dan Macau yang berasal dari negara-negara Islam dan mayoritas Muslim seperti Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Saat ini jumlah total Muslim di Macau diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 orang.

Masjid dan Kegiatan BMI Macau

Hanya ada satu masjid di wilayah yang penuh dengan bangunan bergaya Eropa dan Portugis ini, yang dikenal sebagai Masjid Macau. Letaknya cukup strategis, berdekatan dengan Macau Ferry Port yang menjadi gerbang kelur masuk Macau melalui jalur laut. Beralamat di Ramal Dos Moros, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi kantor Islamic Association dan Muslim Community Centre.

001   1-Main_Entrance

Gerbang masjid Macau ini bergaya Pakistan- India, mirip dengan masjid Little India di Singapura dan Malaysia. Ada dua bangunan berbentuk kotak; yang pertama adalah gedung untuk kantor pengurus masjid dan yang kedua adalah bangunan untuk shalat. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, sekilas lebih mirip mushola seperti yang ada di tanah air. Karena berbagai keterbatasan, jamaah wanita melakukan shalat di bagian belakang gedung masjid dengan beralaskan karpet dan beratapkan tenda.

Kondisi masjid yang serba terbatas tidak mengurangi kekhidmatan para Muslimah asal Indonesia yang sedang mengadakan pengajian rutin pekanan tiap Ahad di sana. Para Buruh Migran Indonesia (BMI) tersebut tampak giat dan semangat menuntut ilmu agama serta belajar membaca Al-Qur’an.

“Justru suasana seperti ini lebih enak, seperti di kampung saya”, tutur Titik, BMI asal Ponorogo yang telah berada di Macau sejak tahun 2006. Menurut Titik, mayoritas pekerja yang ada di Macau pada mulanya ditempatkan di Hong Kong. Perkembangan Macau yang diiringi dengan besarnya kebutuhan akan tenaga kerja dianggap sebagai peluang menarik bagi agen pekerja yang menaungi para BMI Hongkong tersebut. Alhasil, para pekerja yang mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan JawaTimur tersebut, dipindahkan ke sana.

“Kehidupan di sini lebih baik dibandingkan dengan Hongkong. Walaupun penghasilan kami lebih sedikit, namun sikap orang-orang di Macau jauh lebih baik. Kami juga mendapat kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah, termasuk mengikuti pengajian rutin. Beberapa teman BMI bahkan berkesempatan untuk menempuh pendidikan di tingkat universitas,” papar perempuan yang menjadi pengurus aktif organisasi pengajian BMI ini.

Toleransi dan Tantangan Beribadah

Meski mayoritas penduduk Macau beragama Budha, namun toleransi beragama tercipta dengan baik di sini. Jarang ada diskriminasi terhadap perempuan berjilbab dan para pekerja mendapat kesempatan yang cukup untuk beribadah. Namun, masih umum ditemui ekspresi keheranan penduduk setempat saat menemui Muslim yang tidak makan babi atau sedang menjalankan ibadah puasa.

“Kamu akan mati kalau tidak makan,” komentar seorang pekerja laki-laki pada Yuli, pekerja dari Indonesia.

“Saya sudah melakukannya sejak kecil, dan kamu lihat, saya masih hidup sampai sekarang,” jawab Yuli sambil terkikik geli.

Meski begitu di beberapa tempat masih ada kaum Muslim yang mengalami kendala dalam menjalankan shalat. Hal ini terjadi karena waktu istirahat yang diberikan perusahaan tidak bertepatan dengan waktu shalat. Sementara mereka dilarang izin shalat di tengah jam kerja. Menghadapi kondisi ini, banyak pekerja yang menjamak waktu shalat. Sebagian lalu mencari pekerjaan lain yang memungkinkan mereka untuk menjalankan ibadah.

***

[Share] Trip Kita NGT Indonesia – Maret 2015

Alhamdulillah, langkah saya (memberanikan diri) mengirimkan artikel singkat dan foto perjalanan ke National Geographic Traveler Indonesia disambut. Pada Sabtu, 27 Februari 2015 yang lalu, seorang kawan mengirimkan pesan singkat via whatsapp. Ia bermaksud mengonfirmasi temuannya di sebuah laman majalah.

“Ada nama yang familiar di sini mbak. Apakah ini benar mbak?”, begitu katanya. Saya yang saat itu baru saja mengaktifkan hape, sontak kaget dan sekaligus senang mengetahuinya.

Captured by: Devina
Captured by: Devina

Tulisan ini saya buat sebagai langkah konkrit saya untuk perlahan-lahan (suatu hari nanti) mencapai mimpi besar menjadi seorang penulis dan kontributor di National Geographic, baik itu NatGeo Indonesia, NatGeo Traveler atau yang Internasional.

Alhamdulillah, semoga bisa lebih produktif menulis, kontributif, bermanfaat dan diridhoi Allah swt. aamiin Special thanks untuk Jeng Icha dan suaminya yang telah menginspirasi saya mengirimkan tulisan ke Trip Kita, dan juga Jeng Devina atas foto dan informasinya :”).

[Travel] Berkunjung ke Brunei, Negeri para Sultan

Brunei. Yang terbayang adalah negeri mungil namun kaya raya dan banyak minyaknya. Sewaktu kecil dulu, ibu saya pernah mengatakan bahwa di Brunei sana ada istana dan masjid berkubah emas. hoho~ Langsung kebayang kisah-kisah negeri 1001 malam.

Untuk para traveler pada umumnya, bisa dikatakan bahwa Brunei bukanlah destinasi wisata yang jadi prioritas untuk dikunjungi, terutama jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Hal ini terlihat dari beberapa postingan dan review beberapa orang backpackers yang berseliweran di dunia maya. Kebanyakan dari mereka menyebutkan bahwa Brunei itu “membosankan”. Pun lagi dari sisi akomodasi dan transportasi di Brunei tidak semudah negara lainnya.

uy

Tapi, kata-kata mereka tak menyurutkan niat saya untuk berkunjung ke negeri Sultan ini. Karena saya yakin, se-apa-pun sebuah kota atau negara, pasti punya keunikan dan kekhasan masing-masing yang tidak dimiliki oleh tempat lain. Tak hanya dari sisi alamnya, tetapi juga dari sisi orang-orang dan budayanya. Terlebih setelah mengenal dunia antropologi dan sosiologi, jadilah setiap tempat, budaya dan orang-orang itu UNIK!

Berbekal jaringan pertemanan dan rencana “escape from thesis” menuju Northern Borneo (baca di SINI), sampailah saya di negeri para Sultan pada pertengahan Mei 2014 lalu.  Alhamdulillah, saya memiliki seorang kawan asli Brunei, yang saya jumpai pada tahun 2007 di Vientiane, Laos pada sebuah event mahasiswa dan akademisi se-ASEAN.

Ini foto tahun 2007 itu. Saat masih muda dan langsing. Aih~
Ini foto tahun 2007 itu; Indonesian feat Bruneian

Langsung menuju cerita. Kunjungan saya ke Brunei ini hanya sebentar saja, kalau dihitung jam, gak sampai 24 jam; sampai di lokasi hari Jumat siang, berangkat lagi Sabtu pagi menuju Kota Kinabalu. Sungguh sangat singkat (*nyesek TT____TT). Belum lagi saya kurang informasi, bahwa hari Jumat adalah hari libur di Brunei. Jadi banyak lokasi dan tempat yang tidak beroperasi. Tapi tak mengapa. Waktu yang terbatas tersebut tetap bisa saya optimalkan dengan sebaiknya. Alhamdulillah, memiliki kenalan yang tinggal di daerah tersebut sangat membantu proses mengenal lokasi dengan efektif dan efisien.

Sebelum ke bagian jalan-jalannya, sedikit informasi, saat saya ke Brunei, jalur masuk yang saya lalui adalah lewat darat dari Miri (Sarawak) dengan menggunakan mobil sewa bersama yang saya pesan melalui penginapan backpackers di Miri. Sesampainya di perbatasan imigrasi Brunei, saya sempat dicegat. Kaget, karena untuk warga negara Indonesia, diwajibkan untuk menunjukkan uang cash sebesar B$ 300 (sekitar NTD 7,200 atau Rp 2.900.000) XD! Saya mendadak panik, karena saya tidak tahu persyaratan ini dan tidak pernah ada yang menyebutkan tentang hal tersebut di berbagai blog.

Saat itu, saya hanya memiliki beberapa Ringgit Malaysia dan Taiwan dollar saja, yang jumlahnya tidak sampai sepertujuh yang diminta. Alhamdulillah, dengan bantuan pak supir mobil sewa tersebut, saya bisa melewati imigrasi dengan lancar. Namun saya harus tetap bisa meyakinkan mereka dengan menunjukkan kartu mahasiswa Taiwan, tanda booking penginapan dan informasi seputar kawan saya yang orang Brunei itu.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa ada syarat “uang tunjuk” seperti ini? Berdasarkan penjelasan pak supir, beliau menyebutkan bahwa banyak sekali WNI yang secara ilegal bekerja di Brunei dan menyalahgunakan izin visa turis. Memang, gaji di Brunei (walo untuk pekerjaan informal or domestik) terbilang cukup tinggi, sehingga banyak orang yang mengadu nasib walaupun itu dengan cara yang nekat. Selain WNI, warga negara Vietnam termasuk juga sebagai “patut dicurigai”. Kebijakan ini mungkin tidak berlaku jika kita berkunjung ke Brunei melalui jalur udara.

Sekarang, mari menuju ke cerita jalan-jalannya. Terkait akses transportasi umum, jika dibandingkan ibukota negara lainnya, di Bandar Sri Begawan (BSB) bisa dikatakan cukup sulit untuk mendapatkannya. Hanya ada sedikit mini-bus yang beroperasi di jam-jam tertentu dan tidak setiap wilayah terlewati. Salah satu alasannya adalah karena tingkat ekonomi masyarakat Brunei yang cukup tinggi dan harga mobil serta bensin tergolong “murah”, maka transportasi umum tidak populer di negeri ini. Kebanyakan masyarakat menyetir sendiri kendaraannya. Saya sempat panik saat mengetahui kondisi ini. Tapi, Alhamdulillah kawan saya berbaik hati mengantar saya berkeliling BSB dengan mobil pribadinya. But, jangan khawatir, walau terbatas masih ada transportasi umum koq. Biayanya hanya B$ 1 per sekali naik per orang. Terlampir peta rute bisnya:

Brunei Bus Line
Brunei Bus Line

Nah, untuk akomodasi selama di BSB, bisa cek informasi lengkapnya bisa click di SINI. Biaya penginapannya berkisar B$ 10 – 20 per orang per malam, tergantung jenis akomodasinya. Kalau saya, sewaktu di sana dibantu oleh kawan saya dalam mencari penginapan 😀

IMG_5460
Halte bisnya seperti ini

Where to go in Bandar Sri Begawan? Yang pasti harus berkunjung ke SOAS alias masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang menjadi icon kota BSB ini. Kubahnya asli emas lho :D. Kalau gak percaya, silakan cek sendiri keasliannya :b. Di sekitar SOAS, ada beberapa tempat wisata lainnya, seperti gedung pemerintahan dan juga pusat oleh-oleh. Untuk menuju ke daerah ini, ada cukup banyak transportasi umum karena letaknya memang berdekatan dengan terminal pusat kota.

SOAS!
SOAS!
SOAS: Sultan Omar Ali Saifuddin
SOAS: Sultan Omar Ali Saifuddin
Tampilan samping SOAS
Tampilan samping SOAS

Selain ke SOAS, kita bisa juga berkunjung ke Kampong Ayer (kampung Air) atau juga dikenal sebagai Venice of the East (Antonio Pigafetta).  Ada banyak rumah yang didirikan di atas sungai, bahkan menurut beberapa sumber, kampung ayer ini dihuni oleh lebih dari 30,000 orang! Bisa dibayangkan betapa luasnya kawasan di atas air ini. Orang-orang Brunei sudah tinggal di sini lebih dari 1300 tahun. Dari cerita kawanku yang seorang dosen Sejarah di UBD, ia menyebutkan bahwa pusat perdagangan dan juga kesultanan Brunei pada awalnya semua berada di atas air. Barulah di era modern kesultanan pindah ke daratan. Informasi lengkap tentang Kampong Ayer bisa dibaca di SINI. Buat yang ingin berkeliling, bisa menyewa perahu.

IMG_5474
Kampung Ayer!

Kemudian, setelah itu bisa berkeliling kota BSB, melewati istana Sultan yang benar-benar megah, museum nasional Brunei, makam para keluarga Kerajaan Sultan, dsb. Menurut penuturan kawan saya, untuk mengelilingi BSB tidak perlu sampai sehari karena memang dari ukurannya, ibukota negara ini cukup kecil. Dengan mobil pribadi, bisa ditempuh 4-5 jam saja sambil mampir ke beberapa tempat. Tapi ingat, kalau mau ke Brunei sebisa mungkin selain hari Jumat ya supaya bisa masuk ke tempat-tempat tersebut. Khusus untuk istana sultan, masyarakat umum hanya bisa masuk ke sana saat Idul Fitri saja. Mungkin kalau ada yang mau berlebaran di Brunei, bisa tuh mampir ke istana sambil bertemu para Sultan dan keluarganya 🙂

Setelah puas berkeliling, kawan saya mengajak makan makanan khas Brunei di sebuah restoran yang sangat terkenal di Brunei bernama Aminah Arif Restaurant. Masakan Brunei dari sisi tampilan dan rasa, tidak jauh berbeda dengan yang ada di tanah air. Hanya nama makanan dan juga beberapa campuran bumbunya saja yang berbeda. Ada semacam papeda bernama Ambuyat yang terbuat dari tepung sagu. Biasanya ia dimakan dengan kuah gulai bercampur durian (seperti tempoyak). Kawan saya memberikan tips bagaimana membuat ambuyat yang “berhasil” (sagu tercampur rata dengan air). Oya, tak disangka, pramusaji di restoran tersebut adalah mas-mas yang berasal dari Jawa Tengah. Saya pun takjub, sambil kemudian mengajak ngobrol mas tersebut dengan bahasa Jawa. Dunia terasa sempit 🙂

IMG_5548
Makanan khas Brunei. Ada Ambuyat, semacam papeda dari Indonesia Timur

Then, bagi yang mencari oleh-oleh, untuk pusat perbelanjaan dan jajanan, bisa berkunjung ke daerah Gadong. Terdapat sebuah mall di sana, dan juga beberapa tempat makan semacam McD. Tapi saya tidak sempat masuk ke mall tersebut, hanya saja saya sempat diantarkan kawan ke sebuah craft center untuk membeli beberapa magnet Brunei, kartu pos dan Sampul Hari Pertama (buat para filatelis pasti suka ini :D). Di sana, saya berjumpa ibu-ibu penjual souvenir yang ternyata berasal dari Nusa Tenggara Barat 🙂

Ngomong-ngomong soal McD, saya teringat, saya mengalami kesulitan dalam menemukan akses internet yang gratis (*maklum backpacker gak modal :p). Setelah berkeliling, akhirnya saya temukan juga ada akses wifi gratis di McD. Namun untuk mendapatkan passwordnya, saya perlu bertanya ke mbak-mbak pramusajinya. Dengan membeli segelas es krim (menu yang paling murah :p), kemudian saya bertanya apa passwordnya :D. Setelah itu, cukup berdiri di luar McD, tanpa perlu jajan lagi, akses wifi bisa didapat. hahaha….

Oya, saya sempat mampir juga ke UBD alias Universiti Brunei Darussalam. Kampus ini terletak agak jauh dari pusat kota (walau sebenarnya gak jauh-jauh amat). Kampus UBD memiliki beberapa fakultas, dan juga asrama mahasiswa. Menurut kawan saya, di sini ada asrama super lux dan mahal luar biasa untuk para anak orang kaya Brunei. Dari situ, ada subsidi silang untuk mahasiswa yang kurang mampu agar bisa tinggal dan menuntut ilmu di UBD.  Belum terlalu banyak mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Brunei. Tapi bagi yang tertarik, terdapat beasiswa yang ditawarkan oleh Pemerintah Brunei untuk warga negara Indonesia. Bagi yang berminat bisa cek informasinya via googling ya 🙂

Suasana kampus UBD yang asri
Suasana kampus UBD yang asri

Terakhir, satu hal yang berkesan dari kunjungan saya ke Brunei. Saat mampir ke sebuah masjid untuk sholat Ashar, saya sempat menyaksikan prosesi pernikahan khas Brunei di masjid tersebut. MaashaAllah, sungguh terpana. Secara kultural, tidak jauh berbeda dengan yang ada di Malaysia dan Indonesia bagian Sumatra. Pakaiannya sangat khas Melayu sekali. Kawan saya berkata, memang untuk akad nikah di Brunei biasanya diadakan pada hari Jumat sore, setelah sholat Ashar. Kemudian walimatul ursy-nya diadakan pada Jumat malam atau hari Sabtunya.

Pernikahan ala Brunei
Pernikahan ala Brunei

Selain itu, hal lain yang cukup membuat saya terkesan adalah diskusi saya dengan kawan saya terkait penerapan syariat Islam di Brunei, yang sempat mengguncang dunia melalui sikap tegas dan berwibawanya Sultan Bolkiah. Menurut pandangan kawan saya, banyak orang yang kontra belum mengerti benar tentang apa itu syariat Islam yang sesungguhnya, namun mereka sudah keburu “anti” dan menganggap kejam. Ia menambahkan, dengan penerapan syariat Islam ini, Sultan Bolkiah berusaha untuk menjaga kehidupan masyarakat Brunei dengan lebih baik lagi.

Ah, andai saja saya punya waktu lebih, bisa berdiskusi panjang tentang hal ini dan juga Brunei secara keseluruhan. Semoga di waktu yang akan datang, saya bisa mendapat kesempatan berkunjung lagi dan belajar lebih dalam tentang negeri para Sultan ini. aamiin…

[Share] How to Apply Japanese Visa from Taipei

Alhamdulillah. Memang rencana-Nya selalu indah. Di akhir Juli lalu saya mengalami peristiwa yang mengubah rencana hidup saya selama satu semester, status saya sebagai mahasiswa yang harus diperpanjang sampai Januari 2015. Namun ternyata ada skenario-Nya yang lain, yang sedang menanti. Itu adalah rezeki untuk bisa berkunjung ke tanah para Samurai, Jepang.

Sebenarnya saya sudah merencanakan kunjungan ke Jepang sejak November tahun lalu, namun karena terpentok masalah finansial, saya sempat urung menjalankan rencana tersebut. But, Alhamdulillah, sponsorship yang saya dan teman saya ajukan, dikabulkan. Salah satu alasan dikabulkannya, karena saya masih berstatus “mahasiswa” 😉

Nah, beberapa pekan terakhir ini sempat ramai dengan kebijakan imigrasi baru Jepang yang akan memberikan bebas visa untuk WNI pemegang E-paspor per 1 Desember 2014 nanti. Namun, tentu saja ada beberapa persyaratan lain yang harus dipenuhi, untuk mendapatkan “bebas visa” ini. Berita lengkapnya bisa dibaca di SINI.

Buat rekan-rekan WNI yang khususnya ada di Taipei dan belum memiliki E-paspor, harus mengurus visa. Untuk pengurusan Visa ke Jepang dari Taiwan, bisa diajukan ke: Japan Interchange Association – Taipei Office, yang beralamat di No. 28號慶城街松山區台北市 Taiwan 105.

Silakan lihat detail ancer-ancernya di bawah ini 😀

alamat taipei
Naik MRT Wenhu Line (jalur coklat), turun di MRT Nanjing East Road Station.

Berikut ini beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengajukan visa Jepang:

  • VISA Application form. Bisa diunduh di Visa Application Form
  • One photo (standard passport), ukuran 2 x 2 inch (sekitar 4,5 x 4,5 cm), berwarna dengan latar belakang foto putih. Ditempel di formulir pendaftaran.

Kalau saya, berhubung waktu pengurusan visanya agak mepet dengan jadwal keberangkatan, saya mengakali foto 4 x 6 saya dengan menggunting bagian atas-bawahnya supaya pas jadi 4×4 :p.

  • Original passport + Photocopy of passport’s personal information page
  • Photocopy of passport’s page proving the latest stamp entering Taiwan
  • Original ARC + Photocopy (both sides); or other entry permits sticker/receipt as if the ARC is under issued,
  • Original student ID card + Photocopy (both sides),
  • Bank account passbook (already swiped with the latest balance info) + Photocopy; the balance should be at least NTD 100,000.

Nah, untuk urusan tabungan ini, memang yang paling memberatkan dari semua persyaratan. Bagi yang mendapat sponsor untuk kunjungan ke Jepang (dibuktikan dengan surat asli financial coverage), syarat tabungan ini bisa digugurkan.

  • Itinerary schedule for the trip; for a conference trip, it’s better to ask the itinerary schedule and invitation letter from conference’s committee,
  • Round trip flight ticket proof. If we go with somebody else, and that somebody was helping us to buy the ticket, then we also need to provide passport’s personal info page photocopy of that somebody.

Ini hukumnya wajib, saat saya kemarin ke kantornya, saya sempat salah menge-print tiket kepulangan, sehingga sedikit bermasalah. Tapi, Alhamdulillah ibu-ibu bagian visanya berbaik hati memberikan waktu untuk saya men-forward email bukti pembelian tiket ke email kantor mereka, dan di-print-kan di sana.

  • Proof of hotel reservation in Japan.

Semua syarat di atas disusun rapi dan berurutan ya :). Oleh ibu-ibu penjaga loket visa akan dicek dengan sangat teliti keabsahan di tiap lembar dokumen yang disertakan. Apabila ada hal lain yang diperlukan, beliau akan menanyakannya.

Oya, catatan tambahan:

  • Proses pengurusan visa adalah 1 hari kerja (misalnya, masukin hari Senin pagi, hari Selasa siangnya sudah bisa diambil 🙂 ). Untuk beberapa kasus urgent dan penting (misal, terkait tugas negara), pemrosesan visa bisa hanya 3 jam sahaja 😉
  • Kantor Japan Interchange Association-nya buka dari jam 09.15 – 11.30 (khusus untuk pengajuan visa) dan dibuka lagi jam 14.00 – 16.00 (untuk pengajuan dan pengambilan visa) dan pengurusan visa hanya hari Senin – Kamis saja (Jumat tidak melayani visa).
  • Biaya pemrosesan visa adalah sebesar NTD 920, dibayar tunai saat pengambilan paspor dan visa.

Jaa, bagi rekan-rekan WNI yang berencana ke Jepang dari Taiwan, selamat membaca dengan seksama. Kalau ada yang mau ditanyakan, don’t hesitate to ask your question and leave your comment below 🙂

*PS: beberapa bagian di postingan ini saya copas infonya dari Mas Hadziq di facebook bliau. Mohon izin nggih mas, maturnuwun sanget

[Share] How to Find Free Wifi while Backpacking

Nge-net dan nge-gadget sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Apalagi buat para “aktivis” yang menggantungkan semua komunikasi (*terutama gratisan) melalui media ini. Sehari saja tidak nge-update, bisa kacau berbagai komunikasi persiapan suatu kegiatan.

Hal ini sangat saya rasakan ketika berkunjung ke negeri matahari terbit, pekan lalu. Walaupun dikenal sebagai negara dengan hi-tech, tapi tidak berarti akses internet (gratisan) mudah didapat. Begitu pula saya rasakan ketika berback-packing ke Bandar Sri Begawan. Walaupun negara kaya, bukan berarti internet (gratisan) ada di mana-mana. Tapi itu bukanlah menjadi penghalang buat kita, orang Indonesia, yang terkenal dengan kreativitas dan ide cemerlangnya 😀 (*in positive meaning lho!).

wi-fi

Ketika kita berkunjung ke suatu negara atau kota, coba himpun informasi terlebih dahulu tentang infrastruktur internet (gratisan) di kota tersebut. Atau kalau yang ber-backpacking, bisa pilih penginapan/ hostel yang menyediakan wifi gratisan (*in some cases, ada beberapa penginapan/ hotel yang mewajibkan customernya untuk membeli voucher internet dengan harga yang wah).

Berikut ini beberapa tempat publik yang biasanya menyediakan wifi gratisan (terutama kota-kota besar):

1) Stasiun kereta besar atau Bandar Udara

Kalau sedang bepergian atau baru tiba, coba cek di bandara or stasiun ybs, biasanya ada free wifi (walau kadang ada batasan waktu penggunaan). Misalnya di tanah air, bandara kita dan juga stasiun kereta besar (contoh: Stasiun Tugu, Yogyakarta) ada fasilitas internet gratis berbatas (tiap 15 menit perlu login).

Di bandara-bandara internasional lainnya, ada juga yang menyediakan internet gratis. Kalau di KLIA (Kuala Lumpur) ada batas waktu 3 jam pemakaian.

Nah, untuk konteks Taiwan, jaringan internet gratisan bisa diakses di setiap gedung pemerintah dan stasiun kereta dengan nama “iTaiwan”. Layanan ini disediakan oleh pemerintah Taiwan di berbagai Government Indoor Public Area. Motto-nya, “Service without boundaries, providing a better life to all citizens”. Walau itu stasiun kecil melosok sekalipun, biasanya iTaiwan tetep hadir membersamai para traveler en pencari wifi gratisan :D. Informasi lengkap seputar iTaiwan bisa dilihat di SINI.

Untuk kota Taipei sendiri, akses free wifi bisa diperoleh juga melalui jaringan “TPE-Free” internet access. Tidak hanya di bandara, stasiun kereta/ MRT, tetapi juga ada di setiap perempatan jalan besar. Jadi, buat yang ber-backpacking di Taipei, berbahagialah 😀

2) Fast-food Restaurant atau “Warung Kopi” besar

Sewaktu saya ber-backpacking ke Northern Borneo, saya sedikit kesulitan mencari wifi gratisan. Selain karena kurangnya informasi, juga karena mobilitas yang cukup tinggi. Sewaktu saya di Brunei, tempat menginap saya tidak menyediakan free internet, alias harus beli voucher. Sayangnya, berhubung budget mepet, alhasil saya berkeliling di sekitar penginapan dan menemukan satu tempat yang menyediakan internet gratisan. Dialah M*D (fast-food restaurant yang you know what :D).

Namun, karena ada password untuk menyambungkannya, saya harus mencari tahu. Dengan berbekal membeli es krim (menu paling murah di sana XD), saya pun sekaligus menanyakan apa password wifinya :p. Dan setelah itu, untuk kunjungan berikutnya tak perlu lagi membeli makanan (hanya untuk mengetahui password. hahaha)

Sama halnya dengan cafe atau warung kopi lainnya, mekanisme untuk mendapatkan internet gratis perlu dilakukan dengan cara membeli produknya dulu, baru kemudian bisa gratis.

3) Jaringan Mini-Market

Nah, untuk yang ini, akses internet gratis tak bersyarat bisa didapatkan di beberapa jaringan mini-market, misalnya 7-1*. Saat berkunjung ke Tokyo, saya dan rekan-rekan agak kesulitan mencari akses internet gratis, namun kemudian alhamdulillah dengan keberadaan 7-1* yang ada di berbagai lokasi dan menyediakan internet gratis, perjuangan para “aktivis” untuk selalu update bisa terselamatkan :D.

4) Bis Umum

Di beberapa kota besar, ada bis kota atau bis umum yang juga memberikan akses internet gratis. Untuk konteks Taipei, ada beberapa bis jalur tertentu yang menyediakan fasilitas “TPE-free bus”. Dan di Tokyo saja juga menemukan fasilitas ini. Di tanah air, bis damri dari dan ke Bandara juga memberikan akses ini kepada para penumpangnya :).

Nah, sementara ini empat hal di atas yang bisa saya share. Mungkin ada masukan atau cerita lain dari teman-teman tentang how to find and get free internet access saat berjalan-jalan di kota-kota yang pernah kalian kunjungi 🙂

[Foto] Safarnama

IMG_7701
This’s why I always love to sit in window’s side

Perjalanan.

Apakah yang saya suka dari perjalanan? Dalam tiap kesempatannya, senantiasa ada hal baru yang saya temui. Tidak hanya berjumpa dengan bermacam manusia dengan kisahnya, atau mengabadikan keindahan aneka ragam ciptaanNya, tetapi juga peluang untuk semakin mengenal diri; menyapa hati, sambil menguntai makna dari tiap kalimat yang tertoreh di lembaran-lembaran kertas. Sebuah safarnama….

PS:

* Pertama kali tahu istilah safarnama (berarti “Catatan Perjalanan” dari Bahasa Farsi) adalah dari bukunya Agustinus Wibowo 🙂

* Foto diambil dari jendela kereta rute East coast Taiwan (dari Taitung menuju Kaohsiung)