[Story] Islam di Kota Judi, Macau

Prolog

Tulisan ini saya buat untuk Rubrik Ufuk Luar, Majalah Ummi tahun 2014 (*persisnya saya lupa edisi ke berapa ^^”). Sedikit latar belakang penulisan kisahnya, pada Maret 2014 saya berkunjung ke Hong Kong untuk mengikuti international conference yang diadakan di Hong Kong University.

Rasanya tanggung kalau sudah ke Hong Kong, tapi ndak mampir ke Macau. Akhirnya, saya bersama dua orang teman saya (Mb Dina dan Mb Meikha) melakukan short trip ke sana (less then 8 hours). Walaupun singkat, namun senang masih bisa berkunjung ke satu-satunya masjid yang ada di sana, dan bertemu dengan para pahlawan devisa dari negeri kita. Selamat membaca 🙂

***

Cahaya Islam dari Kota Judi, Macau

Oleh: Retno Widyastuti

Di negara yang terkenal dengan dunia hiburan dan perjudian resminya, cahaya Islam memancar, ditandai dengan adanya masjid dan kompleks pemakaman Muslim.

Macau merupakan wilayah khusus Republik Rakyat Cina yang lokasinya berada di sebelah barat daya Hongkong dan propinsi Guangzhou. Saat pertama menginjakkan kaki ke kota ini yang terbayang dalam benak saya adalah reruntuhan gereja kuno dan kasino yang penuh sesak dengan turis asing.

Sama sekali tidak terbersit di pikiran saya, bahwa daerah yang pernah menjadi koloni bangsa Portugis sejak pertengahan abad 16 sampai tahun 1999 ini, juga memiliki masjid dan komunitas Muslim. Saya baru tersadar saat melihat peta wisata Macau di dekat Ruins of Saint Paul. Di situ tertulis Mesquita e Cemeterio Islamico (Bahasa Portugis yang berarti masjid dan kompleks pemakaman Muslim).

Saya pun bergegas mencari taksi untuk pergi ke masjid tersebut. Namun, karena sebagian besar pengemudi hanya bisa berbahasa Kanton dan sedikit bahasa Mandarin Putonghua, akhirnya komunikasi pun dilakukan dengan terbata-bata. Selain karena masalah bahasa, memang, keberadaan masjid ini tak banyak diketahui masyarakat Macau secara umum.

Islam di Macau

Islam termasuk merupakan agama minoritas di wilayah Macau. Jumlah Muslim asli Macau diperkirakan hanya 400 orang saja. Menilik sejarahnya, Islam hadir di Macau melalui beberapa gelombang. Pertama, para pedagang asal Timur Tengah dan Persia yang hadir sejak masa Dinasti Yuan hingga Dinasti Qing di China daratan. Gelombang selanjutnya adalah kedatangan Muslim asal Asia Tenggara yang dibawa oleh tentara Portugis.

Pada masa itu, disediakanlah kompleks lahan untuk dibangun masjid dan pemakaman bagi para Muslim. Di kompleks tersebut terlihat berbagai macam nisan dengan nama-nama khas Muslim dari berbagai wilayah, lengkap dengan angka tahun dimakamkannya. Beberapa makam tersebut bahkan sudah berumur ratusan tahun.

Gejolak perang sipil yang terjadi di China daratan pada tahun 1949, menyebabkan banyak Muslim China Hui yang melarikan diri dari China menuju Taiwan dan Macau-Portugis. Jumlah Muslim di Macau juga bertambah signifikan semenjak datangnya pekerja asing ke Hong Kong dan Macau yang berasal dari negara-negara Islam dan mayoritas Muslim seperti Indonesia, Bangladesh, India dan Pakistan. Saat ini jumlah total Muslim di Macau diperkirakan mencapai lebih dari 8.000 orang.

Masjid dan Kegiatan BMI Macau

Hanya ada satu masjid di wilayah yang penuh dengan bangunan bergaya Eropa dan Portugis ini, yang dikenal sebagai Masjid Macau. Letaknya cukup strategis, berdekatan dengan Macau Ferry Port yang menjadi gerbang kelur masuk Macau melalui jalur laut. Beralamat di Ramal Dos Moros, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi kantor Islamic Association dan Muslim Community Centre.

001   1-Main_Entrance

Gerbang masjid Macau ini bergaya Pakistan- India, mirip dengan masjid Little India di Singapura dan Malaysia. Ada dua bangunan berbentuk kotak; yang pertama adalah gedung untuk kantor pengurus masjid dan yang kedua adalah bangunan untuk shalat. Ukurannya hanya sekitar 3 x 3 meter, sekilas lebih mirip mushola seperti yang ada di tanah air. Karena berbagai keterbatasan, jamaah wanita melakukan shalat di bagian belakang gedung masjid dengan beralaskan karpet dan beratapkan tenda.

Kondisi masjid yang serba terbatas tidak mengurangi kekhidmatan para Muslimah asal Indonesia yang sedang mengadakan pengajian rutin pekanan tiap Ahad di sana. Para Buruh Migran Indonesia (BMI) tersebut tampak giat dan semangat menuntut ilmu agama serta belajar membaca Al-Qur’an.

“Justru suasana seperti ini lebih enak, seperti di kampung saya”, tutur Titik, BMI asal Ponorogo yang telah berada di Macau sejak tahun 2006. Menurut Titik, mayoritas pekerja yang ada di Macau pada mulanya ditempatkan di Hong Kong. Perkembangan Macau yang diiringi dengan besarnya kebutuhan akan tenaga kerja dianggap sebagai peluang menarik bagi agen pekerja yang menaungi para BMI Hongkong tersebut. Alhasil, para pekerja yang mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan JawaTimur tersebut, dipindahkan ke sana.

“Kehidupan di sini lebih baik dibandingkan dengan Hongkong. Walaupun penghasilan kami lebih sedikit, namun sikap orang-orang di Macau jauh lebih baik. Kami juga mendapat kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah, termasuk mengikuti pengajian rutin. Beberapa teman BMI bahkan berkesempatan untuk menempuh pendidikan di tingkat universitas,” papar perempuan yang menjadi pengurus aktif organisasi pengajian BMI ini.

Toleransi dan Tantangan Beribadah

Meski mayoritas penduduk Macau beragama Budha, namun toleransi beragama tercipta dengan baik di sini. Jarang ada diskriminasi terhadap perempuan berjilbab dan para pekerja mendapat kesempatan yang cukup untuk beribadah. Namun, masih umum ditemui ekspresi keheranan penduduk setempat saat menemui Muslim yang tidak makan babi atau sedang menjalankan ibadah puasa.

“Kamu akan mati kalau tidak makan,” komentar seorang pekerja laki-laki pada Yuli, pekerja dari Indonesia.

“Saya sudah melakukannya sejak kecil, dan kamu lihat, saya masih hidup sampai sekarang,” jawab Yuli sambil terkikik geli.

Meski begitu di beberapa tempat masih ada kaum Muslim yang mengalami kendala dalam menjalankan shalat. Hal ini terjadi karena waktu istirahat yang diberikan perusahaan tidak bertepatan dengan waktu shalat. Sementara mereka dilarang izin shalat di tengah jam kerja. Menghadapi kondisi ini, banyak pekerja yang menjamak waktu shalat. Sebagian lalu mencari pekerjaan lain yang memungkinkan mereka untuk menjalankan ibadah.

***

Advertisements

[Travel] The Great Wall – Badaling, China

The Great Wall 長城 (Changcheng) ato pas jaman SD kukenal sebagai Tembok Raksasa, merupakan salah satu keajaiban dunia yang masih kokoh berdiri hingga saat ini. Dengan panjang sekitar 6300 km, tembok ini melindungi sekaligus membatasi China bagian utara dengan daerah Mongolia. Dibangun sejak jaman Kaisar pertama China, Shih Huang Di (220 – 206 BC) hingga Dinasti Ming, tentunya great wall ini mengorbankan begitu banyak keringat dan darah manusia. Tidak hanya ribuan, tapi bahkan hingga jutaan jiwa melayang.

Alhamdulillah, pada 29 Juni 2010 yang lalu aku diberi kesempatan untuk melihat langsung bangunan bersejarah ini. Ada beberapa area untuk bisa “merasakan” great wall, salah satu pintu masuk yang kukunjungi adalah Juyongguan atau lebih dikenal sebagai Badaling/ North Pass, bisa kulihat betapa tembok besar ini dengan gagahnya terbangun di antara bukit-bukit yang menjulang tinggi. Walo saat itu kabut sedang menyelimuti, tapi hal tersebut tidak mengurangi keindahannya.

IMG_0043

Aku membayangkan, bagaimanakah caranya orang-orang China zaman dahulu membangun tembok ini??? Tentunya sangat berat dan luar biasa susahnya, selain karena harus mengangkut beratus-ratus kilo batuan sebagai bahan dasar tembok, mereka (para pekerja) harus berjuang melewati tempat-tempat yang sulit. Bayangkan, di atas gunung!!

IMG_0102
Scary enough to see the height XD

Dari penjelasan pemandu wisatanya, pada saat itu apabila ada pekerja yang wafat, maka tubuhnya akan dikuburkan di fondasi tembok tersebut. Oleh karenanya, bisa dikatakan tembok besar ini sekaligus merupakan makam para pekerja. Ada beberapa pos “pendakian” di Badaling ini, namun aku hanya sanggup sampai pos ke 2.

Itupun sebenarnya sudah hampir menyerah di tengah jalan saking gak kuatnya. Namun, dengan adanya dukungan dari orang-orang seperjuangan, akhirnya aku menamatkan rute pendakian pos 2 ini. he..he.. Subhannallah, kesanku saat mendaki great wall adalah bener-bener bikin sport jantung. Selain karena kontur tangga yang sangat terjal, juga disebabkan oleh sensasi ngeri karena ketinggian lokasi pos-pos itu.

Wah, aku harus lebih banyak berolahraga, supaya dalam kunjungan berikutnya bisa sampai pos yang lebih tinggi lokasinya. he..he… Baru dua pos aja dah kecapekan, apalagi kalo sampe menyusuri 6300 km temboknya ya? pantes aja sampe skarang belum pernah ada orang yang bisa menaklukannya. Selain karena jarak, juga dikarenakan oleh faktor usia tembok yang sudah sangat tua. Terlebih saat ini tidak semua bagian tembok utuh, ada yang sudah rapuh di tengah belantara China sana. hmm…

Further history about great wall, bisa dibaca di SINI atau ato di official websitenya di SINI.

More pictures:

IMG_0069
View from above
IMG_0046
Siap-siap hiking

IMG_0061

Oroqen (鄂倫春族) Performance

My school time in Taipei has been beginning since 3 weeks ago. I took 4 classes this semester, and one of them is “Ethnic Development in Mainland China”. Why I took this class? Simply because I’m planning to write about Chinese minority for my thesis. Beside of that, this class is really interesting because both the lecturer also the content of the study is made me really curious.

At the first meeting, Dr. Chang (the lecturer) explained about the syllabus of the class. I’m really excited when I read that there are two performance class on it; watching the Chinese minority ethnic performance. For the first performance, Dr. Chang gave us free ticket to watch “Brave Oroqen” performance, on Saturday, 29th September 2012 in Sun Yat Sen Memorial Hall.

Inside the SYS Memorial Hall

This is my first time to see an ethnic performance, so I’m truly excited when I got this chance. The hall gate was opened at 7 pm, but many people already queuing there since 6.30 pm and it’s a very long one. I can saw excitement in their face, and so does mine. After entering the hall and found my seat, I heard an introduction about the whole line of the performance. Although I didn’t understand Chinese very well, I still can understand what they want to deliver. Because before going to SYS hall, I did a small research about what Oroqen is, so that I can get preliminary information and understand the big frame of the performance.

Anyway, what is Oroqen? The Oroqen or Elunchun (鄂倫春族; Èlúnchūn zú) are one of the oldest ethnic groups in northeast China and they are one of 56 ethnic groups which still existed in PRC. According to the 2000 Census, total population estimated 8,196 where 44.54% live in Inner Mongolia and 51.52% along the Heilongjiang River (Amur) in the province of Heilongjiang. They speak Oroqen language, a Northern Tungusic language spoken in the People’s Republic of China. It’s interesting to know that the Oroqen language is still unwritten. However, the majority of the Oroqen are capable of reading and writing Chinese and some can also speak the Daur language (Wikipedia).

Overall, the show lasted around 1, 5 hours. With wearing their traditional customs, they perform many songs and dances, which describe their daily life and tradition. The first chapter of the performance was about a group who performed Oroqen daily life activities and family life, also about their hunting activities, religious activities, and activities in each season (fall, winter, spring and summer). My first impression was their life is really connected to the nature. And I think it formed their cultures and tradition. We can see it from their clothing, religion, and activities.

Knowing the meaning of Oroqen itself, which means “the people inhabiting on mountains” or “the people employing reindeer”, we can understand directly what the performance want to show. Oroqen people are expert on hunting. Not only the man, it mentioned that Oroqen women also have a good shooting talent. It is because their living environment is based on hunting, which is important for their source of food and clothing. Their clothing, shoes, hats and household appliances is made from various mountain animals’ skin, such as deer furs, bearskin, birch bark, etc. The traditional dwelling which called sierranju (xierenzhu) is covered with birch bark in the summer and with deer furs in the winter (Wikipedia; Oroqen people). Those clothing have very beautiful pattern and shape, and it seems very warm if we use it in winter.

Oroqen people with their unique clothes 🙂

From the article I read, it mentioned that with the changes of time, rapid development of society and the improvement of living standards, now Oroqen people has no significant difference with Han majority, since they are using modern clothing. But older people are still willing to wear traditional national dress and in every festival and special occasion, all the Oroqen people dressed in traditional costume.

The next part of the show is about the Oroqen religion. The Oroqen believe in shamanism, the worship of natural objects, and animism. It can be seen from a shaman who did a ritual in front of a tall larch tree, which the trunk is cut off bark, and they draw a face shape above also covered it with a red cloth. This is to show their worshiping to mountain god. Oroqen Shaman’s wearing a special clothes, named cap of God, God clothes and tambourine. This clothing appearance is resembles samurai armor. According to text, Shamanism in northeast China has nearly a thousand years of history as a spiritual and cultural phenomenon. But with the social development and the progress of science, shamanism has been faded and now only become a historical and cultural phenomenon.

Me & the Oroqen Shaman

What made me interested is how the CCP/ Chinese government policy related to Oroqen religion. It said that until the early 1950s the main religion of the Oroqen was shamanism. In the summer of 1952 cadres of the Chinese communist party coerced the leaders of the Oroqen to give up their “superstitions” and abandon any religious practices.

The next chapter of the show is about Oroqen traditional Arts. They showed us various dances and folk songs which used for various occasion. From the national books of Chinese ethnic minorities volume, it said that the Oroqen dance can be divided into three categories; entertainment, ritual and religion. Mostly, the dances imitate the animal movements or represent the nature such as the blooming flower in the spring season. Many man and woman are dancing together, and the way they dance has special rhythm; the speed is from slow to fast to intense the action performances. And another thing that I learned from this performance is about their etiquette. The main etiquette has knees the greeting and kowtow the two feet. The Oroqen very respect the elderly and their elders. Kowtow ceremony purposes pray God worship, weddings, funerals, festivals and other occasions.

After watching the performance, I become more interested about ethnic minorities in China. The performance helps me to understand how their culture and tradition are. Furthermore, I become more interested on how Chinese government maintains those 56 ethnic minorities. What kind of policies and support that the government gave to develop the minorities? How to manage the minorities as one nation of China? How the minorities adapt with the fast growing development of China? How the Oroqen keep their tradition and cultures? I hope that I can find the answer and explore more about ethnic minorities in China.

Special thanks to Aarin for taking the picture

Sources:

Online Sources

Pictures

Private collection of Retno Widyastuti. September 29th, 2012

Journey to Wuhan

Wuhan, ibukota dari Propinsi Hubei di daerah China Tengah, merupakan kota tempat tinggal teman-teman China seperjuanganku di AsTW 2010. Saat mengunjungi negeri panda akhir Juni – awal Juli yang lalu, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke Wuhan. Lokasinya cukup jauh dari Beijing, memakan waktu sekitar 11 jam perjalanan dengan kereta, dengan total jarak sekitar 1220 km.

Perjalananku ke sana dimulai dengan membeli tiket di Stasiun Kereta Beijing (pusat). Tiket kereta yang kubeli adalah tiket soft seat seharga kurang lebih 500.000 kalau dirupiahkan. Memang sangat mahal. Namun, mengingat jaraknya yang jauh dan fasilitas kereta yang setara dengan kereta eksekutif di Indonesia, ya tak mengapalah. Saatnya menikmati hasil menabung 2 tahun terakhir ini :D.

Kereta yang kugunakan adalah jurusan Beijing Xi – Hankou dengan kode kereta Z3. Di China, jenis kereta dibagi-bagi berdasarkan kodenya. Ada yang K, Z, T, dan D. Kelas yang paling lambat jalannya adalah K, kemudian T, Z, dan yang paling cepat adalah D. Untuk kelas D, mungkin bisa disamakan dengan Shinkansen-nya Jepang (Bullet train).

001fd04cea510ccb932a0d
Ini dia “D train” aka Shinkansen ala China 😀

Nah, selain pembagian kode kereta, ada juga pembagian kelas di dalam kereta. Ada hard seat (kayak di kelas ekonomi), soft seat, hard sleeper dan soft sleeper (yang ini paling pueenak!!). Berhubung saat itu adalah pas liburan musim panas, banyak orang Beijing yang mudik ke Wuhan. Alhamdulillah, aku masih beruntung bisa mendapatkan tiket soft seat di saat peak season ini.

Perjalanan ke Wuhan dimulai dengan perjuangan ke Beijing East Railway Station ato Stasiun Kereta Beijing Barat (Beijing Xi Zhan). Berhubung China sangat luas dan banyak penduduknya, maka stasiun kereta dibagi-bagi sesuai arah tujuannya. Ada stasiun Beijing Barat, Timur, Selatan dan Beijing Pusat. Karena Hubei Province letaknya di barat daya Beijing, maka stasiun keretanya adalah yang Beijing Barat.

PS: Untuk foto-foto perjalanan ke Wuhan, please:

WORLD EXPO SHANGHAI 2010

Pengen!! Pengen!! Pengen mengunjungi perhelatan akbar ini ^_____^!!


Beritanya diambil dari :

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/02/03343267/meningkatkan.rasa.saling.pengertian


Meningkatkan Rasa Saling Pengertian

Minggu, 2 Mei 2010 | 03:34 WIB

Pada tanggal 30 April 2010, World Expo Shanghai 2010 dibuka dengan resmi oleh Presiden China Hu Jintao dan berlangsung hingga tanggal 31 Oktober mendatang. Bintang film terkenal Jackie Chan bergabung dengan ribuan tamu, termasuk 20 pemimpin dunia, dalam acara pembukaan yang sangat megah itu.

Dari segi luas area, World Expo Shanghai 2010 sangat mencengangkan. Bagaimana tidak, World Expo Shanghai 2010 yang diikuti oleh lebih dari 200 negara dan organisasi internasional itu diadakan di area seluas 528 hektar (5,28 kilometer persegi) atau dua kali lipat luas wilayah negara Monako. Bukan itu saja, World Expo Shanghai 2010 yang berlangsung selama enam bulan itu diharapkan akan dikunjungi oleh 70 juta pengunjung, termasuk 5 juta pengunjung dari luar negeri.

Perkiraan pengunjung sebanyak 70 juta orang itu didasarkan pada perhitungan bahwa setiap hari sebanyak 400.000- 600.000 orang akan datang ke World Expo Shanghai 2010. Tiket masuk akan dijual dengan dua versi harga, yakni 160 yuan (Rp 212.800) pada hari biasa dan 200 yuan (Rp 266.000) pada akhir pekan atau pada saat pengunjung sangat padat. Sampai awal Maret, lebih dari 22 juta tiket masuk telah terjual.

Dalam kaitan itulah, pada World Expo Shanghai 2010, sedikitnya 70.000 tenaga sukarela akan membantu di dalam arena Expo dan 100.000 tenaga sukarela lainnya akan bekerja di lebih dari 1.000 pusat layanan di berbagai bagian kota Shanghai.

Total biaya yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan World Expo Shanghai 2010 itu 28,6 miliar yuan (Rp 38 triliun). Namun, tidak semua biaya ditanggung Pemerintah China, bantuan dana juga diperoleh dari para sponsor, antara lain, GM and Shanghai Automotive Industry Corporation, China National Petroleum Corporation, Siemens, Coca-Cola, dan China Eastern Airlines.

World Expo Shanghai 2010 bukanlah proyek mercu suar atau proyek yang hanya menghambur-hamburkan uang. Melalui World Expo Shanghai 2010, China dapat menunjukkan kepada dunia mengenai potensi dan sekaligus kemampuan yang dimilikinya.

Dengan datang ke Shanghai dan mengunjungi World Expo Shanghai 2010, orang akan memiliki gambaran yang utuh tentang China. Negara yang berpendudukan paling banyak di dunia itu bukan hanya pasar yang sangat potensial, tetapi juga menyediakan infrastruktur yang lengkap, tertata dengan baik, dan memiliki kepedulian yang sangat tinggi kepada kelestarian lingkungan. Dengan kata lain, melalui World Expo Shanghai, China antara lain ingin menunjukkan kepada dunia bahwa negara itu sangat atraktif sebagai daerah tujuan investasi.

Sama seperti Expo Osaka pada tahun 1970 yang mengawali kebangkitan Jepang sebagai kekuatan ekonomi dunia, World Expo Shanghai 2010 juga akan mengawali kebangkitan China sebagai kekuatan ekonomi dunia.

Pemerintah China menangani World Expo Shanghai 2010 sama seperti pada waktu menangani Olimpiade Beijing 2008. Itu sebabnya Pemerintah China menyediakan press center (pusat pers) untuk melayani keperluan pers dari seluruh dunia selama 24 jam.

Bukan hanya untuk China

Menurut Wakil Menteri Perdagangan China Yi Xiaozhun, World Expo Shanghai 2010 tidak hanya bermanfaat bagi China, negara-negara lain pun, termasuk juga Indonesia, dapat menggunakan paviliunnya di World Expo Shanghai 2010 untuk menunjukkan kepada dunia tentang potensi dan sekaligus kemampuan yang dimiliki. Mengingat sampai dengan tanggal 5 Januari lalu, tercatat ada 242 negara dan organisasi internasional akan hadir di World Expo Shanghai 2010.

Amerika Serikat (AS) pun melihat arti penting World Expo Shanghai 2010. AS pada awalnya mengatakan tidak dapat bergabung karena tengah dilanda krisis keuangan. Namun, kemudian Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyatakan sudah menyiapkan dana untuk berpartisipasi.

Denmark juga menganggap kehadirannya di World Expo Shanghai 2010 sangat penting. Denmark memboyong patung Little Mermaid, yang sangat terkenal, ke sana. Untuk pertama kalinya, patung itu dibawa keluar dari Kopenhagen.

Indonesia pun menangkap arti penting World Expo Shanghai. Mengingat dengan menarik sebanyak mungkin orang untuk mendatangi paviliun Indonesia, melalui pertunjukan kesenian dan kebudayaan, semakin banyak orang yang mengetahui potensi dan sekaligus kemampuan yang dimiliki oleh Indonesia.

Selain menjadi pusat kesenian dan kebudayaan, paviliun Indonesia juga harus dikembangkan menjadi pusat informasi tentang potensi dan kemampuan yang dimiliki Indonesia dalam bidang ekonomi atau tentang tawaran apa yang diajukan Indonesia sebagai negara tujuan investasi. Dalam kaitan itulah, Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Perdagangan Mari Pangestu hadir dalam acara pembukaan World Expo Shanghai 2010.

Komitmen China sebagai negara yang sangat peduli akan kelestarian lingkungan sangat terasa dalam berbagai aspek di World Expo Shanghai 2010. Mulai dari desain paviliun yang ekologis, pengendalian polusi, konstruksi yang ramah lingkungan (hijau), manajemen yang hijau, dan moda transportasi yang hijau.

Saling pengertian

World Expo Shanghai 2010 bukan hanya merupakan pameran arsitektur, inovasi teknik, dan ajang promosi tentang potensi dan kemampuan yang dimiliki negara, melainkan juga arena pertunjukan tari-tarian dan kesenian. Dengan kata lain, World Expo Shanghai 2010 mempererat hubungan di antara manusia serta menjadi ajang bagi pertukaran ide dan pendapat. Semua itu akan membuka peluang emas bagi para peserta expo dan pengunjungnya untuk meningkatkan rasa saling pengertian dan kepercayaan di antara mereka.

Itu sebabnya, melihat potensinya, World Expo Shanghai 2010 terlalu penting untuk dilewatkan begitu saja.

Menangani urbanisasi

Jika melihat bagaimana Pemerintah China mengembangkan kota Shanghai, terutama wilayah Pudong di mana World Expo Shanghai 2010 berlokasi, banyak negara dapat belajar tentang bagaimana menangani atau lebih tepat mengendalikan urbanisasi.

Nguyen Vinh Quang, Wakil Duta Besar Vietnam untuk China, dalam ceramahnya di depan para wartawan ASEAN + 3, pekan lalu, mengatakan, Vietnam dan juga negara lain dapat belajar dari China tentang bagaimana cara mengendalikan urbanisasi.

Pemerintah China berhasil menata ulang kota Shanghai menjadi kota yang tertata rapi sesuai peruntukan, jumlah penduduk yang terkendali, dan hijau. Wilayah yang kini dijadikan lokasi World Expo Shanghai 2010 di jantung kota Shanghai itu sebelumnya adalah zona industri. Beberapa pabrik terkemuka China pada abad ke-19 dan abad ke-20, termasuk perusahaan galangan kapal Jiangnan, perusahaan baja Pudong Shanghai, dan pembangkit listrik Nanshi berlokasi di sana. Perusahaan-perusahaan itu merupakan penyumbang polusi terbesar terhadap lingkungan sekitarnya.

Untuk mempersiapkan World Expo Shanghai 2010, 272 perusahaan memindahkan usahanya. Demikian juga, pekerjanya yang tinggal dengan 18.000 rumah tangga di sekitar pabrik- pabrik tersebut dalam keadaan sangat miskin. Mereka dimukimkan kembali di wilayah baru atau diberikan ganti rugi yang memadai.

Di banyak negara, urbanisasi yang berlangsung demikian cepat seiring dengan pembangunan dan modernisasi mengakibatkan pemerintah negara yang bersangkutan tidak dapat mengimbanginya dengan menyediakan infrastruktur yang memadai, seperti transportasi dan perumahan.

China, menurut Nguyen Vinh Quang, mengendalikan urbanisasi dengan baik. Itu sesuatu hal yang dapat ditiru oleh negara- negara lain. Dalam kaitan itulah, ia menilai tema World Expo Shanghai 2010 sangat tepat, â?Better City, Better Lifeâ? (Kota yang Lebih Baik, Kehidupan yang Lebih Baik). (JL)

The First Emperor : The Man Who Made China

Category: Movies
Genre: Documentary
Inget kah dengan pelajaran sejarah dunia pas zaman SMP or SMA? Ketika menginjak bab Peradaban China, pasti pernah denger tentang Dinasti Qin (mbacane : Chin), dengan kaisar pertamanya bernama Shi Huang Di (ato sering dengernya Shih huang ti).

Aye seneng banget dengan film-film dokumenter tentang peradaban kuno. Bahkan waktu kecil, aye pernah bercita-cita jadi arkeolog di tempat-tempat kuno dunia. wekekekk…

Lanjut lagi cerita tentang filmnya. Nah, film dokumenter yang berdurasi sekitar 90 menit ini, bercerita tentang kisahnya sang Kaisar mulai dari ia naik tahta (umur 15 taon) hingga wafat dalam umur 50 taon (pada 210 BC). Ia disebut sebut sebagai kaisar pertama China karena di bawah pemerintahannya lah, kerajaan Qin (Chin) yang semula hanya wilayah kecil kemudian bisa menjadi besar dengan menaklukan 7 wilayah kerajaan lainnya. Dan kesemua wilayah itu dipersatukan. Dan jadilah Dinasti Qin (wilayah Qin –> Chin –> China).

Dari film ini, didapat pula pengetahuan lain tentang "karya besar China" yaitu pembangunan Great Wall dan Makam raja terbesar di dunia (musoleum) yang dilengkapi dengan ribuan "Terracotta Army", yang ada di Xi’an.

(Info lebih lanjut tentang Dinasti Qin, bisa baca di tautan :
http://en.wikipedia.org/wiki/Qin_Dynasty)

Wah…Kayaknya kalo isi filmnya diceritain smua, malah jadi nggak seru nontonnya. Wekekekk.. Jadi, kepada para peminat film dokumenter, guru sejarah (bagus untuk media pengajaran nih, Pak & Bu!), mahasiswa sejarah, penyuka china, travel, etc (smuanya dah), selamat menonton!

è¿ä¸ªçµå½±ççå¾å¥½çä¹å¾ææ?æ?!

Zhège dià nyÇ?ng zhÄn de hÄn hÇokà n yÄ hÄn yÇuyìsi!

This movie is really good to see and very interesting :D!

(film ini bener-bener bagus en menarik loh!)

Ip Man (C-Movie)

Category: Movies
Genre: Action & Adventure
Berawal dari rekomendasi seorang teman, saya mencari torrent film ini dan men-downloadnya. Saya kira filmnya biasa-biasa aja, maksudnya seperti film kebanyakan yang "non-sense". Tapi, after I watched it, SUGOI!! VERY COOL!! Ampe nangis saking terharunya…..hu..hu….

Ceritanya diangkat dari kisah nyata tentang seorang ahli kung-fu di China yang berjuang melawan tentara pendudukan Jepang (masa perang Sino-Japan II tahun 1930-an).

Dari film ini, tidak hanya sisi sejarah saja yang diangkat (okupasi Jepang di China), tetapi juga digambarkan secara apik berbagai jurus kungfu yang mantaps ^o^/! Kya…kya…(nge-fans abis ama martial arts China yang satu ini. he..he…). Terlebih saya jadi bisa skalian latihan mandarin. hoo..ho…

Ternyata eh ternyata, di akhir film saya baru tahu bahwasanya Wing Chun (Ip Man) yang jadi tokoh sentral film ini merupakan guru dari Bruce Lee!

Wa…wa…Bruce Lee yang jadi legenda film China dengan berbagai aksi kungfunya itu ! (bahkan, karakternya ampe ditiru tokoh anime Naruto lho ^o^)