[Story] Sabaidee, Laos!

Sejak kemarin, penggemar sepak bola tanah air sedang senang-senangnya merayakan kemenangan telak tim Garuda atas tim Laos di ajang pertandingan sepakbola Piala AFF 2010. Hal tersebut jadi mengingatkanku kembali tentang kunjunganku ke negeri Laos 3,5 tahun yang lalu (Mei 2007). Berikut ini tulisanku seputar negeri ini (wis ditulis sejak lama, sakjane :D).

Begitu mendengar kata Laos, apa yang ada di benak kalian? Pasti, tak diragukan lagi, untuk orang Indonesia yang bahkan tak pernah menjamah dapur sekalipun, pasti tahu bahwa laos merupakan salah satu bumbu dapur berbentuk kaya’ jahe. Ya kan :D?

Namun kali ini, aku tak membahas laos yang itu, tapi Laos yang “L” nya pake huruf kapital, yang menandakan bahwa Laos merupakan nama tempat :). Dah nyambung tho? Yup… Aku ingin bercerita tentang negara land-locked, yang bernama resmi Lao PDR (People’s Democratic Republic) atau yang dalam bahasa aslinya bernama Sathalanalat Paxathipatai Paxaxon Lao. Angel en blibet ya nyebutnya? Hehe… Setahun yang lalu (tepatnya Mei 2007), Alhamdulillah aku berkesempatan untuk menikmati 10 hari di negara ini, yang bahkan sebelumnya belum pernah kupikirkan dan kuperkirakan akan bisa kukunjungi. Dengan mengatasnamakan kegiatan bertema Asean at the heart of Dynamic Asia, aku beserta 1 orang teman dari UGM, 1 orang dari ITB, dan 3 orang dari UI, terbang dari Soekarno Hatta, kemudian transit sebentar di Savanabhumi, Bangkok, dan trus dilanjutkan ke Wattay-Vientiane.

Alasanku jauh-jauh melewati 4 jam perjalanan dari Jakarta menuju Vientiane adalah untuk menghadiri acara sekaligus sebagai salah satu wakil UGM dalam The 9th ASEAN University Network Educational Forum and Young Speaker Contest, yang diadakan di National University of Laos (NUOL), Vientiane. Karena yang menyelenggarakan adalah AUN, maka peserta acara ini berasal dari universitas-universitas di ASEAN yang menjadi anggota AUN. Hampir semua perwakilan universitas dan negara hadir di sana, kecuali delegasi Myanmar karena alasan tertentu.

Sebelumnya, ini dia selayang pandang Laos.

Laos merupakan Negara tanpa berbatasan dengan laut (istilah land-locked country), karena terkepung oleh negara-negara tetangganya…di bagian utara berbatasan dengan China, di Timur dengan Vietnam, di Selatan dengan Kamboja dan Thailand, dan di Barat dengan Thailand + Myanmar. Jadi, satu-satunya akses menuju lautan terdekat, harus melewati Vietnam or Kamboja. Maka dari itulah hubungan kerjasama bilateral Laos-Vietnam dan Laos-Kamboja lebih erat dibandingkan dengan Negara lainnya.

Trus, dari sisi politik dan pemerintahan, Laos merupakan negara berbentuk Republik Sosialis (yang juga berpaham komunis), sehingga religiusitas masyarakatnya menjadi tampak kontras dengan paham komunis itu. Budha, sebagai agama utama di Laos, menciptakan suasana yang unik karena kita bisa melihat banyaknya biksu yang berada di jalan-jalan utama kota Vientiane, baik itu sedang berjalan kaki atau sedang di kendaraan umum (eh, ada yang naik motor juga lho ^^). Kukatakan unik karena aku tak biasa melihat pemandangan ini, melihat kuil/vihara Budha yang berjumlah banyak, serta beraneka rupa pula. Bahkan, viharanya ada yang sudah berumur ratusan tahun!

Oya, dari 10 hari-hariku di Vientiane, aku mendapatkan pengetahuan mengenai tradisi agama Budha dari sisi yang berbeda. Berbeda dalam artian Budha sebagai agama mayoritas di sini (Laos), dan di Indonesia, sebagaimana kita tahu, pemeluk Budha termasuk minoritas. Ini dia penjelasannya. Teman LO (guide)ku selama acara ini, banyak menceritakan dan juga memperingatkan ku tentang berbagai hal terkait dengan Budha. Yang paling kuingat adalah bahwa biksu itu tidak boleh didekati oleh wanita dari radius 3 meter (klo ndak salah), pokoke intinya ndak boleh dekat-dekat apalagi klo sampai nyentuh. Ketika mengetahui hal itu, temanku (wanita) merasa sedikit kecewa karena sebenarnya dia ingin foto bareng biksu. jadinya curi-curi foto dari kejauhan saja.

Trus, ada lagi! Bayangan milik biksu (maksude bayangan = shadow) itu ndak boleh sampai terinjak oleh kita, katanya tidak sopan. Yang paling takinget dari cerita LO-ku adalah ketika aku sedang asik-asiknya berfoto deket patung Budha, dia langsung (sedikit) berteriak dengan agak panik, I’m sorry, you can not touch the Buddha. Maksudnya, walaupun itu patung, tetep ndak boleh disentuh. Jadi, aku cukup kaget dan terheran-heran. Tapi, I have to appreciate them.

Jadi teringat. Ketika melihat Candi Borobudur, keadaan yang terjadi malah sebaliknya. Orang-orang justru berbondong-bondong dan berusaha untuk bisa memegang Budha statue (maksude, ini tentang mitos klo tangan kita bisa mencapai dan memegang kepala/patung Budha tersebut, maka permohonan bisa terkabul).