[Travel] Merhaba, Turkiye!

Ndak terasa, sudah hampir 8 tahun berlalu sejak aku menginjakkan kaki ke negeri asal Orhan Pamuk, Turki. Skarang ini, aku ingin mem-flash back ingatanku di masa itu, suatu sore di bulan Mei 2006.

At that time, kalau ndak salah hari Selasa, 9 Mei 2006 di lobi HI UGM (yang sekarang gedung lamanya sudah completely gone XD), seorang senior yang merupakan bos-nya KOMAHI menawariku sebuah kesempatan. Aku tak pernah mengira, bahwa tawaran itu akan menjadi TIKET rezeki bagiku untuk pergi menginjakkan kaki di negeri seribu menara, Turkiye :D! Beliau hendak mengajukanku sebagai wakil dari KOMAHI untuk maju seleksi di tingkat Dekanat, dalam rangka 19th May Youth and Sport Festival in Istanbul.

Oya, undangan kegiatan ini berasal dari Kedutaan Besar Turki di Indonesia, yang diteruskan ke Kementrian Negara Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia, yang kemudian diteruskan lagi ke fakultas ISIPOL di dua universitas di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.

Bang Miftah (UI) dan Aye (UGM)
Bang Miftah (UI) dan Aye (UGM)

Dari surat undangan yang dikirimkan Kemenegpora tersebut, sakjane yang diminta adalah 1 orang perwakilan dari ketua/pengurus BEM FISIPOL. Namun, berhubung di FISIPOL UGM ndak ada BEM-nya (you know the reason lah~ ;D), maka rupanya dekanat meminta tiap HMJ (himpunan Mahasiswa Jurusan) yang ada di FISIPOL untuk mencalonkan seorang wakilnya untuk diseleksi dan dipilih menjadi wakil UGM di dalam ajang ini.

Nah, berhubung tawarannya sangat mendadak dan mendesak (keesokan paginya sudah harus memasukkan berkas ke dekanat eui!), banyak teman-teman sejurusanku yang ndak bisa mendaftar seleksi ini. Karena, salah satu syaratnya adalah harus sudah punya PASPOR! Dan banyak dari mereka yang batal maju karena tak memenuhi syarat ini. Dan Alhamdulilillah, pada saat itu segala persyaratan untuk kegiatan semacam exchange student, sudah kumiliki, termasuk buku saku bersampul hijau nan “sakti” itu.

Turkiye, here I come :)
Turkiye, here I come 🙂

Singkat cerita, setelah melewati proses seleksi administratif di dekanat UGM, Alhamdulillah aku terpilih :). Dalam waktu kurang dari satu hari, langsung segala persiapan keberangkatan ke Turki dilakukan. Segera saja aku mengontak ibuku yang ada di Jakarta, perihal “rezeki” ini.

Then, segeralah aku ke Jakarta untuk mengurus administrasi tiket dan visa (yang Alhamdulillah ditanggung semua). Kemudian, aku dan seorang temanku dari UI (saat itu beliau adalah ketua BEM Fisip UI) janjian untuk bertemu di Kedutaan Turki di daerah Kuningan untuk mengurus visa. Sebelum berangkat, kami pun sempat berkunjung ke kantor Kementrian Pemuda dan Olahraga RI di Senayan. Di sana, kami mendapat wejangan dari salah satu deputi. Beliau mengingatkan bahwa kami diamanahkan “tugas” untuk mewakili negeri tercinta untuk bergabung dan bertemu dengan para pemuda – pemudi dari 25 negara di Bayrampasa, Istanbul.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Friends around the world

Selama di sana, kami berkunjung ke berbagai tempat di Istanbul, seperti Masjid Biru dan St. Hagia Sophia / Ayasofia yang sangat termasyur, berlayar di selat Bosporus, berkunjung ke Miniaturk, Grand Bazaar, Rumeli Hisari (Benteng yang dibangun pada tahun 1452 oleh Sultan Mehmet II), Istana Topkapi, dll.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
In front of Ayasofia

Selain di Istanbul, kami juga berkesempatan untuk mengunjungi ibukota negara ini, Ankara dan bertandang ke gedung-gedung pemerintahnya. Jarak antara Istanbul ke Ankara cukup jauh, memakan sekitar 6 jam perjalanan. Dan itu dilakukan dalam satu hari!! Jadi, berangkat pagi-pagi dari Istanbul, dan baru sampai kembali ke situ keesokan dini harinya (jam 3 pagi). Benar-benar melelahkan, namun sungguh berkesan :D!

In Ankara, parliamentary house
In Ankara, parliamentary house

Di malam terakhir sebelum kumeninggalkan negeri tarian berputar, alhamdulillah, bersama-sama dengan 2 orang temanku dari Jepang dan satu orang dari Sudan, kami berkesempatan untuk homestay di rumah keluarga Turki. Jadi mempelajari banyak hal.

Smoga bisa bertandang kembali ke negeri ini. InshaAlla (next year, perhaps ;D?).InshaaAllah 😀

Advertisements

[Story] Benim Adim Esma

Sudah lebih dari dua tahun berlalu, sejak pertemuan pertama kami.

Istanbul, 17 Mei 2006

Pertemuan itu, di suatu pagi dalam sebuah bis yang akan membawa kami menuju Ankara,Turki. Entah kenapa, sesaat begitu aku memasuki bis, aku langsung memilih untuk duduk di sebelahnya, padahal masih ada banyak pilihan bangku kosong lainnya. Semangat muda dan keluguan terpancar dari wajahnya yang saat itu masih berumur 17 tahun. Mungkin itulah yang menjadi alasanku untuk memilih berada di sampingnya.

Sambil tersenyum, kusapa ia, “Hello, my name is Retno. I came from Indonesia. Nice to meet you :)”

Kemudian ia membalas, “Merhaba, Adim ne*??”

Pertama-tama aku rada gak dhong, maksudnya apaan tuh?

Ia buru-buru menjelaskan, I mean, Hallo, What’s your name??

Mungkin ia bertanya lagi karena kurang jelas mendengar sapaanku. Memang, agak susah sih bagi orang asing untuk mengeja dan menyebut namaku dengan benar untuk yang pertama kalinya. Kusebutkan lagi namaku, RETNO. R-E-T-N-O….RETNO.

“Ooh…My name is Esma. E-S-M-A. Very nice to meet you too”, jawabnya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.

Dia bernama Esma, lengkapnya Esma Aslan. Dia adalah seorang asli Turki. Gadis yang berwajah khas Turki dan raut wajah ke-Arab-araban ini (alis matanya tebel banget! Kalo perumpamaan dalam bahasa kita, kaya ada ulet bulu di atas matanya ^___^), menjabat tanganku dengan erat. Malah, sangat erat! Kemudian, terlihat dari matanya binar-binar rasa penuh ingin tahu. Iki bocah, siapa to?? (Javanese version…^^). Mungkin dia rada kaget, ketika tiba-tiba aku menyapa dan duduk di sebelahnya. Atau mungkin karena terlalu terpesona akan aura keramahanku, kali ya…? (hu…narsis!!!)

Cerita kulanjutkan. Perjalanan dari Istanbul menuju Ankara menghabiskan waktu sekitar 7 jam. Cukup jauh. Walaupun begitu, perjalanan ini tak terasa membosankan karena selama rentang waktu tersebut, aku dan Esma asyik bercakap-cakap. Oya, Esma bertugas sebagai LO (liason officer) selama kunjungan ke Ankara ini.

Memang, ada sedikit permasalahan dalam komunikasi, karena kosakata bahasa Inggrisnya yang cukup terbatas. Namun, hal itu tak menghalangi kami untuk saling bertukar informasi dan ilmu. Ia mengajariku beberapa kata penting dalam bahasa Turki, dan begitu pula sebaliknya. Aku mengajarkannya bahasa Indonesia. Tentunya teman-teman sudah bisa menebak, kata apa yang pertama kali ingin kita tahu, ketika kita belajar bahasa asing??? Tentu saja. I LOVE YOU (halah.).

Kami sama-sama tersenyum. Kemudian, dengan segera ia menuliskan SENI SEVIYORUM di atas buku agenda yang menjadi alat bantu kami dalam berkomunikasi. Dan kubalas, AKU CINTA KAMU.

Dan kami pun terbahak-bahak ^^”

Dilanjutkan dengan kata-kata lainnya, seperti : merhaba (halo), tesekkur ederim (terima kasih. Oya, kalau pake banyak, ditambah Cuk. So, jadi Cuk tesekkur ederim), rica ederim (bacanya : reja ederem, yang berarti youre welcome), dan banyak lainnya. Ia juga mengajariku cara berhitung angka satu sampai sepuluh. Pokoke, sangat menyenangkan!

Tak hanya selama perjalanan ke Ankara itu saja, tetapi kami juga selalu bersama dalam rangkaian acara Youth and Sport Festival in Istanbul yang berlangsung selama 5 hari ini. Secara tak langsung, ia menjadi LO yang khusus, hanya untuk menemaniku. Hehe…

Selama 5 hari itu, banyak hal yang membuatku terkagum-kagum padanya. Walaupun ia lebih muda 2 tahun dariku, dan berperawakan kecil mungil, ternyata ia sangat pandai menawar dan cenderung agak galak malah….he…he…Waktu itu, seluruh peserta festival diberi kesempatan untuk berbelanja aksesoris khas Turki di Canali Bazaar (pusat oleh-oleh seperti Pasar Bringharjo). Sangat beruntung ditemani oleh Esma, karena ia menjadi pembela bagiku, yang tak segan-segan beradu mulut dengan para penjual itu, demi menghemat beberapa NTL (New Turkish Lira, mata uang Turki). Salut deh! Cuk tesekkur ederim ^^!

Hari perpisahan pun tiba. Tentu saja kami sedih dan saling menangis. Hehe…(sentimental banget tuh suasananya!). Sebagai tanda mata dan benda pengingat kenangan, sebuah selendang biru dan sebuah cincin perak ia berikan padaku. Sangat bagus!

Pun walau kami terpisah beribu-ribu mil jauhnya, sampai sekarang kami masih keep in touch. Sesekali saling berkirim kartu pos (lebih bermakna euy! tapi lebih mahal juga ongkosnya. He…he..), dan beberapa kali berkirim email or ber-chatting ria. Seperti malam kemarin. Perbincangan kami itu berisi perihal menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing saat ini. Dan juga, belajar beberapa kalimat baru dalam bahasa Turki, yaitu: Savasmaya devam et! yang berarti keep on fighting ^__^. Kemudian, baru kutahu bahwa ia akan berulang-tahun pada tanggal 13 besok. Sehingga aku bertanya, apa bahasa Turkinya, selamat ulang tahun. Ia menjawab, IYIKI DOGDUN.

Wah….memang sangat menyenangkan memiliki teman dari negara lain. Dan benar-benar terbuktilah bahwa DIA menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal…….Ureshii da yo :D!

Esma & Me
Esma & Me

Dear Esma, Savasmaya Devam Et! Keep on fighting untuk semuanya yak :). Smoga Allah memperkenankan kita untuk bertemu kembali, suatu hari nanti….

PS: Yang di atas itu bahasa Turki, yang berarti Halo, siapa namamu?